Musim panas ini, langit Amerika Serikat akan menyaksikan kehadiran jenis pesawat baru yang sering disebut sebagai “mobil terbang”. Pesawat ini dapat lepas landas dan mendarat di ruang yang terbatas, mirip dengan helikopter, namun berfungsi seperti pesawat terbang. Pengumuman ini disampaikan oleh Departemen Transportasi AS pada hari Senin.
Program percontohan selama tiga tahun ini akan melibatkan delapan wilayah di seluruh AS, termasuk New York, New Jersey, Texas, Florida, dan Albuquerque di New Mexico. Dalam proyek ini, desain pesawat baru akan digunakan untuk mengangkut penumpang dan kargo di seluruh negeri, bahkan sebelum mendapatkan sertifikasi penuh dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA).
Perusahaan-perusahaan yang mengembangkan teknologi ini mengklaim bahwa pesawat mereka lebih tenang, lebih murah, dan menghasilkan emisi yang lebih sedikit dibandingkan helikopter atau pesawat terbang konvensional. Beberapa di antaranya berjanji akan memberikan perjalanan sepenuhnya otonom. Pesawat-pesawat ini, termasuk pesawat listrik yang dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal (eVTOL) dan pesawat dengan lepas landas ultra-pendek, memerlukan ruang yang jauh lebih sedikit untuk beroperasi, dengan kemampuan mendarat dan lepas landas di luar bandara tradisional, lebih dekat ke tempat tinggal dan tempat kerja masyarakat.
Dampak Inovasi Teknologi Terhadap Mobilitas
Inovasi ini diprediksi akan merombak cara orang berpindah di antara kota-kota. Melalui teknologi ini, masyarakat dapat dengan cepat berpindah dari satu kota ke kota lain dalam hitungan menit, menghindari kemacetan lalu lintas dan berkontribusi pada perubahan ekonomi yang lebih besar.
Dalam panggilan laporan pendapatan kepada para investor bulan ini, Adam Goldstein, CEO dan pendiri Archer Aviation, salah satu perusahaan yang terlibat, menyebut program percontohan federal ini sebagai “momen Waymo kami”, di mana sebuah proyek fiksi ilmiah mulai menjadi kenyataan. “Sekarang tujuannya adalah agar setengah juta orang di kota-kota besar negara ini mulai melihat pesawat ini sebagai bagian dari perjalanan sehari-hari mereka, sama seperti mereka mulai melihat Waymo setiap hari,” ujarnya.
Mobil udara listrik milik Archer, yang dinamakan Midnight, dirancang untuk mengangkut hingga empat penumpang dalam perjalanan selama 60 hingga 90 menit. Perusahaan ini akan berpartisipasi dalam proyek percontohan di Texas, Florida, dan New York. Goldstein menyatakan bahwa Midnight akan menyelesaikan langkah penting menuju sertifikasi “dalam beberapa kuartal mendatang”. Archer telah mendapatkan dana dari produsen mobil Stellantis dan United Airlines.
Perusahaan lain yang terlibat dalam proyek percontohan ini termasuk Beta Technologies, produsen pesawat listrik kecil, Joby Aviation yang didukung oleh Toyota dan Jet Blue, serta Electra yang membangun pesawat hibrida listrik ultra-pendek. Semua perusahaan tersebut telah menyelesaikan uji terbang di AS.
Realitas Mobil Terbang
Marc Allen, CEO Electra, menegaskan bahwa program percontohan ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa mobil terbang bukanlah sebuah fantasi. “Ini bukan fiksi ilmiah. Ini adalah kenyataan di dunia nyata,” ungkapnya dalam wawancara dengan WIRED.
Dengan hadirnya mobil terbang ini, ada harapan baru bagi masyarakat untuk menikmati transportasi yang lebih efisien, cepat, dan ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya akan mengubah cara kita bepergian, tetapi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan mobilitas di berbagai daerah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dengan perkembangan teknologi ini, Indonesia pun bisa mempertimbangkan untuk mengadopsi teknologi serupa di masa depan, yang tentunya akan sangat berdampak pada sektor transportasi dan pariwisata.