Dalam dunia yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI), tantangan bagi para pencari kerja semakin nyata. Kisah Katya, seorang pencari kerja, memberikan gambaran mengenai realitas ini.
Katya, seorang wanita yang tengah mencari pekerjaan, menemukan dirinya terjebak dalam situasi yang aneh. Setelah menerima undangan untuk wawancara dengan sebuah AI bernama Melvin dari perusahaan Mercor, ia merasa ragu dan menutup tab tersebut. Namun, beberapa minggu kemudian, dalam keadaan keuangan yang semakin mendesak, Katya merasa terpaksa untuk melanjutkan. Mercor, yang diketahui sebagai perusahaan penyedia data untuk melatih AI, menawarkan pekerjaan yang membuatnya terlibat dalam proses pelatihan model AI yang justru menggantikan posisinya sebelumnya.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Setelah melakukan wawancara dengan Melvin, Katya menerima tawaran pekerjaan dari Mercor. Ia harus menandatangani kontrak dan menginstal perangkat lunak pemantauan di komputernya. Meskipun merasa tidak nyaman, gaji yang ditawarkan cukup menarik dan ia pun menerima tawaran tersebut.
Katya memasuki proyek yang sudah berjalan, di mana ia dan ratusan pekerja lain diminta untuk menulis berbagai contoh pertanyaan yang mungkin diajukan kepada chatbot, serta membuat respon ideal dari chatbot tersebut. Setiap tugas memerlukan waktu berjam-jam sebelum data dikirim untuk ditinjau lebih lanjut. Meskipun tidak tahu pasti jenis AI yang dilatihnya, Katya menikmati pekerjaan tersebut. “Rasanya seperti memiliki pekerjaan nyata,” ujarnya.
Keberlangsungan Kerja yang Tak Pasti
Namun, kebahagiaan Katya tidak bertahan lama. Dua hari setelah ia mulai, proyek tersebut dihentikan secara mendadak. Tanpa pemberitahuan, ia kembali berada dalam ketidakpastian. Beberapa hari kemudian, ia menerima tawaran pekerjaan baru dari Mercor untuk mengevaluasi interaksi antara chatbot dan pengguna nyata, banyak di antaranya berasal dari Malaysia dan Vietnam yang sedang berlatih bahasa Inggris. Meskipun masih merasa trauma dari pengalaman sebelumnya, Katya menerima tawaran tersebut dan bekerja hingga larut malam.
Dampak AI Terhadap Pasar Kerja
Sistem pembelajaran mesin seperti ChatGPT memerlukan data yang besar dan beragam, yang harus diurutkan dan dilabeli oleh manusia. Meskipun teknologi AI semakin maju, industri ini menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan kualitas dan keandalan. Dalam beberapa waktu belakangan, muncul kekhawatiran mengenai stagnasi kemajuan teknologi, yang berdampak pada kualitas chatbot yang dihasilkan. Kualitas umpan balik dari pengguna yang nyata menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang teknologi AI.
Dalam konteks Indonesia, pergeseran ini dapat mempengaruhi banyak sektor, termasuk pendidikan dan pelayanan pelanggan. Dengan semakin banyak pekerjaan yang berpotensi digantikan oleh AI, penting bagi para pekerja untuk beradaptasi dan mengembangkan keterampilan baru yang relevan.
Kesimpulan
Kisah Katya mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pencari kerja di era AI. Sementara teknologi ini menawarkan efisiensi, dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan harus diperhatikan. Pekerja di Indonesia perlu bersiap menghadapi perubahan ini dengan meningkatkan keterampilan dan kesiapan mental dalam menghadapi ketidakpastian di pasar kerja.